Sabtu, 29 Oktober 2011

Psikologi Olahraga (anxiety)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam pembahasan tentang anxiety telah dibicarakan secara luas masalah anxiety dan pengaruh – pengaruhnya terhadap usaha serta prestasi atlit. Akan tetapi, hanya mengetahui “APA” saja, mengapa atlit takut tanpa mengetahui “BAGAIMANA” cara menyembuhkannya tidaklah banyak manfaatnya.dengan pengetahuan mengenai cara penyembuhannya, kita sering kali dapat menyusun teori – teori dan strategi serta menciptakan situasi guna menolong atlit menghilangkan atau sekurang – kurangnya merndahkan anxiety. Hal ini bukan berrarti bahwa pelatih dapat bertindak sebagai seorang psikiater atau psikolog, akan tetapi dia harus dapat mengenal (recognize) isyarat – isyarat atau pertanda – pertanda takut yang berlebihan pada atlituntuk kemudian menyaringnya, mana kira –kira yang berada dalam kemampuannya untuk menangani dan mana adalah bidang gurapan psikiatris atau psikolog.
1.         
1.        Rumusan Masalah
1.        Bagaimana cara mengurangi tingkat ketegangan dan kecemasan?
2.        Teknik – teknik apa saja yang digunakan untuk mengatasinya ?
1.         
1.        Tujuan Masalah
1.        Mengetahui bagaimana cara mengurangi tingkat ketegangan dan kecemasan.
2.        Mengetahui teknik – teknik yang digunakan untuk mengatasi atau meredakan ketegangan.
BAB II
PEMBAHASAN
1.         
1.        Aktivitas
Aktivitas dan gugahan mengacu kepada kesiapan psikologis seorang dalam menghadapi suatu aktivitas seperti pertandingan. Anxiety akan selalu ada tidak mungkin dihindari dalam setiap pertandingan. Tantangan bagi pelatih adalah bagaimana menolong atlit untuk mengenal respon – respon anxiety, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap situasi – situasi yang dihadapi.
Setiap atlit mempunyai cara atau teknik tersendiri dalam mempersiapkan diri secara psikoogis menghadapi suatu pertandingan sesuai dengan cirri kepribadiannya.kemampuan untuk menyetel dan mengatur tingkat anxiety dan tingkat aktivitas sebelum dan selama pertandingan merupakan skill yang sangat pentng guna memperoleh prestasi yang setinggi – tingginya.
Oxendine ( Fouse dan Tropmann : 1981 ) mengatakan bahwa mengubah aktivitas dan gugahan ke suatu tingkat yang diinginkan membutuhkan pengertian dalam beberapa prinsip dasar psikologi secara keterampilan dalam menggunakan teknik – teknik tertentu. Beberapa teknik untuk menaikan tingkat aktivitas dalam kegiatan motorik seperti : memberikan tantangan, hukuman, hadiah, musik, dan sebagainya. Pelatih juga harus sadar teknik yang bermaksud untuk menggugah semua atlit, disatu pihak dapat menaikan tingkat prestasi beberapa atlit, akan tetapi dilain pihak juga dapat menurunkan prestasi atlit – atlit lainnya.
Oxendine ( Fouse dan Tropmann : 1981 ) juga mengatakan bahwa :
1.        Tingkat arousalatau aktivitas yang tinggi penting untuk aktivitas – aktivitas yang menuntut kekuatan ( misalnya tinju, angkat besi, gulat dll )
2.        Tingkat arousal yang tinggi menggangu aktivitas yang berisi keterampilan – keterampilan yang komplejs ( misalnya senam, koordinasi kestabilan dll )
3.        Tingkat gugahan yang sedikit lebih tinggi dari normal dianjurkan untuk semua tugas motorik ( aktivitas fiik )
Pada tabel berikut dapat kita lihat proses – proses fisik dan psikis, serta aktivitas atlit pada berbagai tingkat aktivitas.
Aktivitas yang berlebihan (overexcited)
Aktivitas terlalu rendah (apatisme)
Aktivitas yang cukup sebelum pertandingan
Proses - proses fisik
Semua organ tidak berfungsi; perubahan – perubahan gawat dalam fungsi – fungsi vegetative (nadi cepat, keringat berlebihan, banyak kencing, gemetar, anggota tubuh bagian bawah terasa lemas dsb.)
Rasa lemas / lemah (langued) gerakan – gerakan serasa lumpuh, terasa ngantuk terus.
Seluruh proses faaliah normal, ketegangan cukup untuk menghadapi pertandingan, denyut jantung naik.
Proses – proses psikis
Kegelisahan yang berlebihan, gerakan – gerakan tidak dapat dikuasai, kekhilafan – kekhilafan,lingkungan,tidak yakin, gugup dsb.
Lengah, tidak acuh (apatis), takut, cemas, murung (depresif),ingin mengundurkan diri, penat, mudah tersinggung
Ada gugahan, agak kurang sabar menunggu pertandinganyang akan dating, konsentrasi optimal, penguasaan tingkah laku(sadar apa yang dilakukan ),penuh energi.
aktivitas
Aktivitas terlarang, disorginazed, taktik dan strategiberantakan, kecepatan hilang, tak bisa atur nafas, gerakan – gerakan tak terkontrol, banyak membuat kesalahan kalau harus melakukan teknik – teknik yang rumit, sangat kaku gerakan – gerakannya.
Tidak ada usaha yang sungguh – sungguh, aktivitas mental cepat turun,salah tingkah tidak merasa capek setelah pertandingan.
Memulai pertandingan dengan rencana taktis, orientasi jelas dapat menguasai pertandingan,semua energy dapat disalurkan secara efisien dan efektif, sasaran tercapai atau mudah dilewati.
Hubungan antara arousal dengan prestasi digambarkan melalui hipotesis huruf U terbalik atau sering disebut hukum Yarkes Dodson (Weinberg : 1988).
Tinggi
Moderat
Rendah
Rendah Optimal Tinggi
AKTIVITAS
Gambar Hipotesa U – terbalik
Gambar diatas menunjukkan prestasi akan meningkat kalau gugahan atau aktivitas meningkat sampai suatu titik optimal tertentu. Akan tetapi peningkatan yang lebih tinggi dari titik yang optimal akan menurunkan prestasi.
2.2 Teknik – teknik mengurangi kepekaan (Desensitization)
Beberapa teknik yang telah pernah dicoba oleh ahli – ahli psikologi untuk mengurangi anxiety yang berlebihan pada invidu yang memperlihatkan ketakutan dalam menghadapi situasi, yaitu :
1.         
1.         
1.        Teknik Jacobson dan Schultz
1.        Mengurangi arti pentingnya pertandingan dalam benak etlit.
2.        Mengurangi ancaman – ancaman hukuman bagi atlit apabila ia gagal.
1.         
1.         
1.        Teknik Cratty
Salah satu teknik kepekaan terhadap ketegangan ketegangan yang diperkenalkan oleh Cratty (1973) adalah :
Dalam teknik ini terlebih dahulu membuat suatu daftar yang menyebabkan atlit merasa bimbang, takut, cemas. Daftar tersebut disusun menurut urutan dari yang paling ditakuti sampai dengan hal yang paling kurang ditakuti. Dengan teknik ini, pertama – tama kita hadapkan atlit kepada situasi yang membangkitkan anxiety yang paling rendah padanya dan menyuruh (memberikan kesempatan) untuk membiasakan diri terhadap situasi demikian.
1.         
1.         
1.        Teknik Progresive Muscle Relaxation.
Dengan latihan ini seseorang dapat menjadi rileks pada otot – ototnya sekaligus juga mengurangi reaksi emosi yang bergelora, baik pada system saraf pusat maupun pada system saraf otonom. Atlit yang bimbang atau takut biasanya ototnya menjadi tegang, dan jika otot tegang maka keterampilan fisiknya akan terganggu maka otot – otot tersebut harus dibuat rilieks. Oleh karena itu, memaksa otot untuk rilieks tidak mudah, apalagi dalam situasi tegang. Maka orang harus melatih diri untuk bisa merilekskan otot – otot yang tegang tersebut. Lebih dari itu dia harus secara sadar mengontrol, menguasai dan mengatur otot – ototnya agar bisa rileks.
Jacobson berpendapat bahwa ada hubungan langsung dari system otot ke emosi orang. Jika kita dapat mengontrol otot – otot kita dan mengurangi tegangannya, maka kita akan mampu pula untuk mengontrol emosi.
Secara sepintas prosedur Jacobson dapat digambarkan sebagai berikut :
Atlit disuruh duduk atau berbaring dengan rileks.kemudian secara bergiliran untuk dilatih rileksasi.angota tubuh tersebut disuruh ditegangkan dengan tegangan isometrik. Tegangannya dipertahankan selama 10 detik, kemudian diperintahkan untuk rileks dan harus dirasakan betul seolah – olah terasa panas dan otot tersebut dapat kita kontrol. Sambil istirahat kita pusatkan perhatian pada otot – otot yang rileks tersebut, dan pada tegangan yang mengalir ke luar dari otot tersebut.
1.         
1.         
1.        Teknik Autogenic Relaxation
Teknik ini dapat melatih seseorang untuk melakukan sugesti diri, agar ia dapat mengubah kondisi kefaalan pada tubuhnya untuk mengendalikan munculnya emosi yang terlalu bergelora.
Pada permulaan latihan memang perlu dibantu dengan instruksi – instruksi dari pelatih. Akan tetapi setelah beberapa kali latihan, atlit harus bisa mensugesti dirinya sendiri dalam latihan relaksasi ini. Prosedur autogenic menekankan pada enam pusat perhatian :
1.        Lengan kanan (kiri) saya terasa berat, tungkai kanan (kiri) saya terasa berat.
2.        Lengan kanan (kiri) saya terasa hangat, tungkai kanan (kiri) saya terasa hangat.
3.        Denyut jangtung saya tenang dan teratur.
4.        Badan saya bernafas sandiri.
5.        Perut saya terasa hangat.
6.        Dahi saya terasa sejuk
Pada waktu latihann pelatih mengecek apakah seluruh anggota badan atlit benar – benar rileks, yaitu dengan cara menmgangkat salah satu anggota badan (misalnya kaki) dan menjatuhkanya kelantai.
Menurut Vanek dan Cratty (1970) tidak semua atlit bisa melatih teknik rileksasi ini dengan hasil yang positif. Katanya atlit harus cukup inteligen, harus melakukan latihan dengan sukarela dan tekun, serta harus mempunyai kemampuan unutk berkonsentrasi dengan baik.
1.         
1.         
1.        Teknik Respon Bebas Anxiety
Prosedur teknik ini adalah sebagai berikut :
Pertama –tama atlit dimasukkan kedalam suatu situasi yang menimbulkan kecemasan padanya. Kemudian situasi tersebut dihapus dengan stimulus eksternal, misalnya bunyi bel,peluit,teriakandari pelatih atau dengan cara lainnya.jadi atlit harus mengasosiasikan perasaan bebas anxiety (rileks) dengan stimulus dari luar tersebut dan haruslah dilakukan berulang – ulang.
1.         
1.         
1.        Teknik Deep Breathing
Teknik ini banyak dilakukan oleh para atlit karena dapat dilakuka disembarang tempat. Prosedur menurut Harsono (1988) adalah sebagai berikut :
  • Duduk dengan badan tegak, kedua tangan rileks diantara lutut, mata dipejamkan.
  • Ambil nafas pelan – pelan sedalam – dalamnya melalui mulut (mulut jangan dibuka terlalu lebar), dan rasakan udara menyelinap keseluruh pelosok alveoli paru –paru.
  • Keluarkan udara pelan – pelan melalui mulut dengan dibantu oleh otot – otot perut. Rasakan sampai seakan – akan paru paru menjadi kosong udara.
  • Istirahat sebentar, kemudian ulangiprosedur diatas beberapa kali.
Pada waktu pertandingan, deep breathing tersebut sering membantu kita untuk bisa mengurangi rasa tegang. Bila timbul ketegangan, segeralah melakukan deep breathing sambil menangkan jiwa dan pikiran.
1.         
1.         
1.        Teknik Meditasi
Penelitian Wallace (1971) menunjukkan bahwa teknik tersebut memberikan efek lluar biasa pada tubuh, yaitu detak jantungmenurun sampai stabil dan peredaran asam laktat menjadi tiga kali lebih cepat dibandingkan saat beristirahat biasa.
Meditasi dilakukan seseorang dengan memusatkan perhatian dan berkonsentrasi terhadap suatu objek atau pikiran dan kegiatan tersebut ditahannya untuk beberapa waktu dalam posisi tubuh yang nyaman, tanpa terganggu atau eralih perhatian dan konsentrasinya. Apabila hal tersebut dapat dilakukan, maka akan diperoleh keadaan rileks.
1.         
1.         
1.        Teknik Model Training
Teknik Model Trainingadalah latihan yang mirip atau menyerupai situasi dan kondisi pertandingan yang sebenarnya. Dalam model training sebaiknya dimasukkan kombinasi dari situasi – situasi stress teknik , social dan mental yang sejauh mungkinmendekati situasi dan kondisi pertandingan. Diharapkan latihan demikian akan dapat mempercepat adaptasi penyesuaian atlit terhadap setiap situasi stress pertandingan.
1.         
1.        Strategi Kognitif
Strategi kognitif didasari oleh pendekatana kognitif yang menekankan bahwa pikiran atau proses berpikir merupakan sumber kekuatan yang ada dalam diri seseorang. Jadi, kesalahan, kegagalan ataupun kekecewaan , tidak disebabkan oleh objek dari luar, namun pada hakikatnya bersumber pada inti pikiran atau proses berpikir seseorang.
Salah satu kegiatan yang mendukung berfungsinya proses kognitif adalah kegiatan pemusatan perhatian yang bersumber pada inti pikiran seseorang. Contohnya : pemikiran sebagai berikut : “ Saya memusatkan perhatian terhadap komitmen saya untuk bermainan sesuai dengan apa yang sudah saya latihdan strategi bermain saya.” Kegiatan ini merupakan kegiatan menginstruksi diri sendiri (self – instruction), sehingga apapun yang akanterjadi dalam permainan, atlot akan berpedoman pada proses berpikirnya.
Namun dalam kenyataannya, strategi kognitif seperti ini sangat erat kaitannya dengan status emosi dan bernagai macam pergolakannya. Pergolakan tersebut berasal dari tingkat ketegangan yang dialami oleh atlit, khususnya yang bersumber pada dirinya, yakni trait anxiety.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kecemasan biasanya berhubungan dengan rasa takut akan kehilangan sesuatu, kegagalan, rasa salah, takut mengecewakan orang lain, dan perasaan tidak enak lainnya. Kecemasan – kecemasan tersebut membuat atlet menjadi tegang, sehingga bila ia terjun ke dalam pertandingan maka dapat dipastikan penampilannya tidak akan optimal. Untuk itu setiap atlet mempunyai cara / teknik tersendiri untuk mempersiapkan diri secara psikologis untuk menghadapi suatu pertandingan sesuai dengan ciri kepribadian masing-masing yang pasti berbeda-beda. Dan anxiety akan selalu ada dan tidak mungkin juga anxiety dapat diatasi. Ada beberapa teknik menghadapi anxiety yang penggunanya tergantung dari macam kecemasannya.
Sebagai usaha untuk dapat mengatasi ketegangan dan kecemasan, khususnya dalam menghadapi pertandingan, lakukan beberapa teknik berikut ini :
a.Identifikasi dan temukan sumber utama permasalahan yang menimbulkan kecemasan.
b.Lakukan latihan simulasi, yaitu latihan dibawah kondisi seperti dalam pertandinagn sesungguhnya.
c.Usahakan untuk mengingat, memikirkan dan merasakan kembali saat-saat mencapai penampilan paling baik atau paling mengesankan.
d.Lakukan latihan relaksasi progresif, yaitu melakukan peregangan atau pengendoran otot-otot tertentu secara sistematis dalam waktu tertentu.
e.Lakukan latihan otogenik, yaitu bentuk latihan relaksasi yang secara sistematis memikirkan dan merasakan bagian-bagian tubuh semakin hangat dan berat.
f.Lakukan latihan pernafasan dengan bernafas melalui mulut dan hidung serta secara sadar bernafas dengan menggunakan diafragma.
g.Dengarkan musik (untuk mengalihkan perhatian)
h.Berbincang-bincang, beradadalam situasi social (untuk mengalihkan perhatian)
i.Membuat pernyataan-pernyataan positif terhadap diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang diperlukan saat itu.
DAFTAR PUSTAKA
Gunarso, Singgih. (1989). Psikologo Olahraga, PT BPK Gunung Mulia, Jakarta.
Yunus, Mahmud. (1993). Psikologi Olahraga. Prodi Olahraga Kesehatan, FIP IKIP Malang.

teori sistem

TEORI SISTEM

Kegiatan Belajar 1: Definisi dan Variabel Sistem
Rangkuman
Sebuah sistem pada dasarnya suatu kesatupaduan (entity) dari elemen-elemen input, process, output, dan feedback. Birokrasi/organisasi pemerintah dapat dipandang sebagai sistem atau subsistem (bagian) dari sistem yang lebih besar. Desa bagian dari sistem pemerintahan kabupaten atau fakultas yang memiliki banyak jurusan merupakan bagian dari sistem universitas

Dalam menganalisis praktik birokrasi/organisasi pemerintah akan lebih memberikan wacana yang luas dan analisis yang lebih komprehensif manakala digunakan pendekatan sistem karena akan diketahui hubungan antarsistem, subsistem, maupun elemen sistem.

Konsep organisasi sebagai sistem terbuka (open system) menerima semua pengaruh dari luar, maupun sebagai sistem tertutup (closed system) bersifat steril terhadap pengaruh lingkungannya hanya ada dalam wacana atau kajian akademis. Dalam praktiknya pengaruh dari luar sistem diseleksi sesuai dengan kebutuhan organisasi yang bersangkutan.

Sebuah sistem pada dasarnya dipengaruhi oleh lingkungan luarnya, sekaligus sistem mampu mempengaruhi lingkungannya atau terjadi hubungan timbal balik (reciprocal).

Faktor internal yang diduga kuat pengaruhnya (determinan) terhadap aktivitas sebuah sistem terlihat pada proses: kepemimpinan, motivasi, komunikasi, pengawasan, interaksi, penetapan tujuan, keputusan.

Faktor eksternal yang menjadi determinan sebuah sistem di antaranya adalah faktor ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, dan keamanan. Antara sistem dengan lingkungan luarnya terjadi hubungan pengaruh timbal balik (reciprocal).

Tolok ukur yang dapat digunakan untuk mengukur sistem birokrasi pemerintah terdiri dari manfaat yang dirasakan masyarakat, dukungan masyarakat, kreativitas/ide baru, kemampuan mempengaruhi lembaga/sistem lainnya, keberlangsungan sistem.

Kegiatan Belajar 2: Evaluasi Model Sistem
Rangkuman
Evaluasi Kinerja Proyek Instansi Pemerintah merupakan salah satu model evaluasi terhadap kegiatan pemerintah dengan menggunakan pendekatan sistem. Komponen sistem yang dievaluasi adalah masukan (input), keluaran (output), hasil (outcome), manfaat (benefit), dampak (impact).

Konsep dasar Evaluasi Kinerja Proyek Instansi Pemerintah dengan pendekatan sistem pada prinsipnya menilai perbandingan antara target dan realisasi pada masing-masing komponen masukan (input), keluaran (output), hasil (outcome), manfaat (benefit), dampak (impact).

Manfaat Evaluasi Kinerja Proyek Instansi Pemerintah dengan pendekatan sistem di antaranya (a) memperjelas tentang informasi proyek, (b) menciptakan kesepakatan untuk menghindari kesalahan interpretasi dan perbedaan pendapat selama pelaksanaan kegiatan, (c) membangun dasar bagi pemantauan dan evaluasi.

Salah satu kelemahan model ini, yaitu (1) tidak semua kegiatan selesai, langsung dapat dievaluasi manfaat (benefit), dan dampak (impact), (2) kemungkinan masuknya unsur subjektivitas ke dalam sistem evaluasi model ini, (3) kesulitan dalam menetapkan indikator/tolok ukur untuk bidang sosial budaya.

Daftar Pustaka

* Deal, Terrence E & Kennedy Allan A. (1982). Corporate Culture. California: Addison-Wesley Publishing Company, Inc.
* Furnham, Andrian & Gunte, Barrie. (1993). Corporate Assessment, Auditing a Company's Personality. London: Thornville Square.
* Heckscher, Charles & Donnellon, Ane. (1994). The Post Bureaucratic Organization, New Perspective on Organizational Change. London: Sage Publication.
* Kast, James R. (1968). General System Theory. Dalam Theories of Human Communication. (Littlejohn, Stephen W., ed.). Belmont: Wadsworth.
* Kosecoff, Jacqueline and Arlene Fink. (1982). Basic Evaluation. Sage Publication.
* Nisjar Karhi dan Winardi. (1997). Teori Sistem dan Pendekatan Sistem dalam Bidang Manajemen. Bandung: Mandar Maju.
* Likert, Rensis. (1986). Human Organization. Terjemahan.
* Rossi, Peter & Freeman Howard E. Evaluation A Systematic Approach. Sage Publication.
* Simon, Herbert A. (1984). Administrative Behavior. (Terjemahan). Jakarta: CV Rajawali.
* Lembaga Administrasi Negara - Bappenas. (1989). Evaluasi Kinerja Proyek.
http://www.facebook.com/topic.php?uid=154970603815&topic=10866

Perkembangan fisik bayi

A.      PENDAHULUAN
Masa bayi berlangsung dua tahun pertama setelah periode bayi yang baru lahir dua minggu. Hal ini karena pada dua minggu pertama setelah bayi keluar dari rahim ibu disebut dengan masa bayi neonatal. Masa neonatal merupakan masa dimana bayi menyesuaikan dengan lingkungan barunya di luar rahim sang ibu (Elizabeth B. Hurlock, 1991). Periode tahun pertama setelah bayi dilahirkan disebut dengan periode tidur karena 88% waktunya digunakan untuk tidur (Rita Eka I., dkk, 2008)
Pada beberapa bulan bayi akan berada dalam keadaan tidak berdaya, namun keadaaan ini akan secara perlahan-lahan menghilang dan bayi bisa mandiri. Mandiri disini bukan berarti bayi bisa mengurus dirinya sendiri, melainkan mengalami perkembangan diamana peran orang lain atau orang tua sudah tidak perlu telalu hati-hati, karena bayi sudah berkembang. Proses ini berlangsung setiap hari, setiap minggu, setiap bulan hingga akhir tahun kedua yang tampak terlihat bahwa bayi tersebut menjadi manusia yang berbeda (Elizabeth B. Hurlock, 2001).
Bayi yang baru lahir akan mengalami banyak penyesuaian terhadap lingkungan barunya. Hal ini dikarenakan saat di dalam kandungan semua kebutuhan bayi didapat dari ibu melalui tali pusat yang menghubungkan keduanya. Tali pusat ini tidak hanya menyalurkan zat-zat makanan dari ibu ke janin, melainkan juga sisa-sisa pembakaran dari janin ke ibu. Paru-paru janin juga membutuhkan aliran darah untuk pertumbuhan dan perkembangan. Setelah bayi lahir maka bayi lebih banyak membutuhkan oksigen yang harus diangkut oleh darah ke seluruh tubuh (Sugiyanto, 2003).

B.       PERKEMBANGAN FISIK BAYI
Petumbuhan yang pesat selama rentang kehidupan terjadi pada masa bayi dan pada periode puber. Walaupun pada saat sebelum dilahirkan dan setelah dilahirkan akan mengalami perubahan secara terus-menerus dalam bentuk dan proporsi ukuran bagian-bagian tubuhnya sejalan dengan pertambahan ukuran yang semakin besar dan semakin panjang atau tinggi. Selama enam bulan pertama, pertumbuhan terus terjadi secara pesat seperti pada periode prenatal dan kemudian mulai menurun. Dalam tahun kedua tingkat pertumbuhan cepat menurun. Pada tahun pertama peningkatan berat tubuh lebih tinggi daripada peningkatan tinggi badan. Namun pada tahun kedua terjadi hal yang sebaliknya.
Berat bayi pada usia satu tahun rata-rata tiga kali berat badan pada saat baru lahir. Dan pada waktu itu sudah memiliki gigi susu sekitar empat sampai enam gigi susu. Berat otak bayi sebesar seperdelapan berat total bayi. Pertambahan berat otak paling besar adalah pada saat usia dua tahun.
Namun terdapat pula beberapa bayi yang memulai kehidupan dengan badan yang lebih kecil dan perkembangannya kurang normal. Hal ini bisa disebabkan oleh saat dalam kandungan asupan gizi ibu kurang baik sehingga bayi juga tidak mendapat gizi yang baik. Akibatnya bayi cenderung tertinggal dari teman-teman sebayanya dalam pertumbuhan fisiknya. Pertumbuhan juga terdapat perbedaan dalam hal perbedaan ras, jenis kelamin, serta tingkat ekonomi. Contohnya pada golongan kulit hitam pada tahun kedua akan tampak lebih ramping daripada anak kulit putih.
Dalam petumbuhan yang dipengaruhi oleh status ekonomi juga tampak berbeda. Bayi yang orang tuanya berasal dari kalangan ekonomi kurang maka pertumbuhan bayi juga lebih kecil, baik untuk berat badan atau tinggi badan. Sebaliknya dengan bayi yang orang tuanya berasal dari kalangan ekonomi yang lebih tinggi. Hal ini tidak hanya berlaku setelah bayi dilahirkan, namun selama bayi / janin masih di dalam kandungan faktor ini juga berpengaruh.
Selama periode masa bayi perbedaan akan tampak sangat mencolok. Perbedaan dalam hal berat maupun tinggi badan. Hal ini disebabkan tidak hanya karena keturunan namun juga kebiasaan makan dan jenis makanan yang dimakan. Asupan gizi yang terkandung dalam makanan yang dimakan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik pada masa bayi.


Dibawah ini merupakan table pertumbuhan fisik pada bayi normal usia 1 bulan sampai 5 tahun.

Umur
Berat Badan (kg)
Panjang Badan (cm)
Lingkar Kepala (cm)
1 bulan
3,0 – 4,3
49,8 – 54,3
33 – 39
2 bulan
3,6 – 5,2
52,8 – 58,1
35 – 41
3 bulan
4,2 – 6,0
55,5 – 61,1
37 – 43
 4 bulan
4,7 – 6,7
57,8 – 63,7
 38 – 44
5 bulan
5,3 – 7,3
59,8 – 65,9
39 – 45
6 bulan
5,8 – 7,8
61,6 – 67,8
40 – 46
7 bulan
6,2 – 8,3
63,2 – 69,5
40,5 – 46,5
8 bulan
6,6 – 8,8
64,6 – 71,0
41,5 – 47,5
9 bulan
7,0 – 9,2
66,0 – 72,3
42 – 48
10 bulan
7,3 – 9,5
67,2 – 73,6
42,5 – 48,5
11 bulan
7,6 – 9,9
68,5 – 74,9
43 – 49
12 bulan
7,8 – 10,2
69,9 – 76,1
43,5 – 49
15 bulan
8,4 – 10,9
72,9 – 79,4
44 – 50
1,5 tahun
8,9 – 11,5
75,9 – 82,4
44,5 – 50,5
2 tahun
9,9 – 12,3
79,2 – 85,6
45 – 51
2,5 tahun
10,8 – 13,5
83,7 – 90,4
45,5 – 52,5
3 tahun
11,7 – 14,6
87,8 – 94,9
46 – 53
3,5 tahun
12,5 – 15,7
91,5 – 99,1
46,5 – 53,3
4 tahun
13,2 – 16, 7
96,4 – 102,9
47 – 53,8
4,5 tahun
13,8 – 17,7
99,7 – 106,6
47,5 – 53,8
5 tahun
14,5 – 18,7
102,7 – 109,9
47,8 – 54

Pertumbuhan bayi dibawah batas minimal dapat terjadi karena gizi buruk atau malnutrisi. Bayi yang kekurangan gizi dapat mengalami gangguan pertumbuhan fisik seperti tubuh kerdil, busung lapar, dan lain-lain. Namun, bukan berarti pertumbuhan bayi yang melebihi batas maksimal merupakan hal yang baik, karena dengan gizi yang berlebih juga dapat menyebabkan kelainan pada pertumbuhan bayi. Pada bayi yang mengalami pertumbuhan berlebih di luar standar beresiko terkena banyak penyakit. Seperti obesitas, gigantisme, dan lain-lain.

C.      KESIMPULAN
Pertumbuhan fisik bayi terjadi pada dua tahun pertama setelah bayi dilahirkan. Pertumbuhan ini meliputi pertanbahan berat badan serta tinggi badan. Pertumbuhan atau pertambahan berat badan akan lebih tampak pada usia satu tahuh, dan pada tahun kedua pertambahan tinggi badan yang tampak. Hal ini buka berarti pada tahun pertama hanya berat badan saja tang meningkat, namun berat badan meningkat lebih cepat daripada tinggi badan. Tinggi badan juga meningkat pada tahun pertama namun tidak secepat yang terjadi pada tahun kedua.
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bayi antara lain jenis kelamin, ras, dan status ekonomi keluarga. Bayi yang berasal daro keluarga yang status ekonomi kurang maka pertumbuhannya juga akan lebih rendah dari yang berasal dari kalangan ekonomi lebih tinggi. Perbedaan ras juga mempengaruhi perbedaan pertumbuhan fisik pada seseorang.



DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, E.B. 1991. Psikologi Perkembangan. Suatu Pendekatan Sepanjang Renyang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Izzaty, Rita Eka dkk. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press.
Sugiyanto. 2003. Perkembangan dan Belajar Motorik. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
M.T Indiarti. 2008. Panduan Lengkap Kehamilan, Persalinan, dan Perawatan Bayi. Yogyakarta: DIGLOSSIA MEDIA.
Yazid, Subakti. 2007. Ensiklopedia Calon Ibu. Jakarta: Smart Akhwat.